Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

Puisi Untukmu


Puisi Untukmu.


Harusnya meretas rindu ini dengan menemuimu
atau sekedar menikmati siluetmu di akhir hari
diantarasenja yang melagu.






Tapi, aku malu.




Harusnya aku menangkap sosokmu diantara kerumunan siang itu
atau sekedar mendengar tawamu yang kini telah menjadi candu.







Tapi, lagi-lagi aku malu.



Jika mengagumimu sudah sebegini bahagia,
Memilikimu menjadi hal yang tak lagi perlu.

Senin, 06 Agustus 2012

Aku, Kamu dan Mereka

Aku, kamu, dan mereka
Tak ada jarak.
Tak ada sekat
Yang juga tak ada kemauan
Yang juga tak ada kesanggupan.
Aku tak berpendirian.
Kamu mungkin tahu tak tahu.
Kamu menahu? Ataukah kamu ragu?



Kamu mungkin terlalu lugu Atau mungkin terlalu ragu?
Ah, Aku tau! Aku yang tak mau tahu tentangmu.
Semua tentangmu
Semua memang kamu.
Semua hanya kamu.
Mereka? Tak tahu ada apa.
Tak tahu kenapa.
Anggap tak ada apa apa?
Yasudah kenapa kita bertanya
Memang sudah tak ada apa apa
Sudah, jangan tanya kenapa 206092011

Sajak Bulir Bulat

Sajak Bulir Bulat 
oleh : Marissa Ika Puspitasari

Ada tangis tertahan di tiap hela nafas.
Tersengal-sengal.
Sebongkah pilu yang tak tersampaikan.
Rasa yang memilih diam, menyertai kata kata yang terlumpuhkan.
Kau mungkin bergurau jika tak menganggap tiap bulir air yang keluar ada diantara harapan dan keputusasaan.
Kau tak bercakap selayaknya orang berpendidikan Bahwa seharusnya kau tahu memang rasa tak mudah diungkapkan.
Kalau begitu, kau diam saja. Itu lebih baik.

Kau

Kau
Oleh : Marissa Ika Puspitasari

Kau mengajarkan segala kemustahilan yang tak terbayangkan.
Kau mengajarkan untuk mempercayai segala hal yang bersumber dari tempat yang kemudian Kau sebut hati nurani.
Kau mengenalkan hal tersuci daripada jasad seorang nabi.
Cinta Kasih.
Yang kemudian disana dosa dan pahala terasa sama atau mungkin tak ada.
Kau doa, cinta, pahala atau dosa.
Aku tak mau menerka.
Kau tak berkata tapi Kau selalu ada disetiap kata yang terterka.
Kata-Mu, aku sesungguhnya bisa meminta.
Aku bisa menerima apapun.
Karena Kau akan selalu bisa.
Tapi keengganan yang ada terlalu besar untuk dikira.
Apalagi meminta.